Risiko Terapi Hormon

2:31 AM
Rendahnya level esterogen pada masa menopause dapat menimbulkan gejala-gejala yang tidak menyenangkan. Ketika gejala ini terjadi biasanya sebagian wanita akan memilih untuk mengambil terapi penggantian hormon untuk menghindari gejala. Terapi penggantian hormon (hormone replacement therapy) adalah pengobatan yang mengandung hormon wanita untuk menggantikan hormon yang sudah tidak lagi dihasilkan tubuh pada masa menopause.

Terapi penggantian hormon ketika digunakan dapat menimbulkan efek samping, mulai dari efek samping ringan yang bersifat sementara hingga efek samping jangka panjang. Efek samping yang dimaksud meliputi pembengkakan pada payudara, perubahan suasana hati (mood), mual, sakit kepala, pendarahan vagina, dan kembung.

Semenjak digunakan untuk meringankan gejala menopause, penggunaan terapi penggantian hormon telah meningkat tajam dari tahun 1990-an. Terapi ini memang terbukti dapat membantu meringankan gejala menopause seperti rasa terbakar pada wajah dan tubuh (hot flashes) dan keringat berlebih pada malam hari (night sweats). Dokter biasanya menyarankan mereka yang mengambil terapi hormon untuk menggunakannya dalam jangka waktu yang sesingkat mungkin guna menghindari potensi efek samping jangka panjang dan pendek yang mungkin ditimbulkan. 

Wanita yang menjalani terapi penggantian hormon setelah menopause- meskipun hanya beberapa tahun- terbukti memiliki risiko yang lebih besar terkena kanker rahim, berdasarkan penelitian terbaru. Penelitian menemukan bahwa ketika wanita menggunakan terapi penggantian hormon selama kurang dari lima tahun, risiko kanker rahim meningkat sebesar 40%. Namun, terapi ini hanya ditemukan berpengaruh meningkatkan risiko dua jenis kanker rahim, yaitu serous dan endrometrioid. Sedangkan risiko untuk kanker rahim jenis lainnya— mutinous, clear cell ovarian cancer— tidak ditemukan.

Selain berisiko mengakibatkan kanker rahim, meskipun dalam persentase yang cukup kecil, terapi hormon juga bisa meningkatkan risiko berkembangnya kanker payudara, penyakit jantung, stroke, dan pembekuan darah. Studi terbesar terkait efek terapi hormon dilaksanakan oleh Women’s Health Initiative, sebuah studi 15 tahun yang melibatkan 161.800 wanita sehat yang sudah memasuki masa menopause.

Studi ini juga menemukan bahwa mereka yang mengambil terapi kombinasi progesteron dan esterogen memiliki risiko penyakit jantung lebih besar daripada mereka yang tidak. Secara keseluruhan, penelitian ini mengungkapkan bahwa penggunaan terapi hormon menimbulkan efek jangka panjang dan pendek yang lebih signifikan daripada manfaatnya. Studi WHI lainnya yang masih meneliti tentang efek terapi hormon menemukan bahwa tipe terapi yang digunakan, cara penggunaan, dan waktu dimulainya terapi menimbulkan efek yang berbeda.

Risiko terapi hormon juga tergantung pada usia, usia saat menopause, dosis, faktor risiko medis yang dimiliki— seperti penyakit jantung, penyakit kardiovaskular, kanker— dan riwayat kesehatan keluarga. Sebelum merekomendasikan terapi hormon, biasanya dokter akan mempertimbangkan faktor risiko tersebut.

Selain faktor risiko kesehatan, ada beberapa hal-hal lain yang juga perlu dipertimbangkan sebelum mengambil terapi hormon. Anda disarankan menggunakan terapi ini jika:
  • Merasakan rasa terbakar dan gejala menopause lainnya yang cukup serius
  • Kehilangan massa tulang, dan sudah mencoba pengobatan lain namun tidak memberikan hasil yang memuaskan
  • Sudah berhenti mengalami menstruasi sebelum usia 40 tahun atau kehilangan fungsi normal rahim sebelum usia 40 tahun (premature ovarian insufficiency)
Tapi, wanita yang mengalami menopause dini, khususnya mereka yang rahimnya diangkat dan tidak mengambil terapi esterogen hingga usia tahun lebih berisiko mengalami osteoporosis, penyakit jantung koroner, kematian dini, penyakit Parkinson, demensia, sindrom kecemasan atau depresi, dan disfungsi seksual.

Di lain hal, menopause dini memperkecil risiko kanker payudara dan kanker rahim. Bagi mereka yang mencapai masa menopause lebih awal (prematur), manfaat perlindungan terapi hormon melebihi risiko medisnya. Jadi, usia, jenis terapi dan usia Anda saat mengalami menopause memiliki pengaruh yang sangat signifikan. Pastikan Anda berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum mengambil terapi penggantian hormon.



Artikel Terkait

Previous
Next Post »