Mengenal Gangguan Autoimun

8:16 AM

Gangguan Autoimun

Sistem imun tubuh berfungsi layaknya benteng yang melindungi tubuh dari serangan substansi asing berbahaya semisal virus dan bakteri.  Namun, jika fungsi sistem imun tubuh terganggu, misalnya karena efek obat-obatan tertentu, ia dapat berbalik menyerang tubuh itu sendiri. Nah, dalam dunia medis kondisi ini disebut dengan gangguan autoimun (autoimmune disorders).

Bagaimana gangguan autoimun terjadi?

Tubuh manusia menghasilkan dua jenis sel darah, yakni sel darah merah dan sel darah putih. Sel darah putih dalam sistem pertahanan (imun) tubuh berfungsi untuk melindungi tubuh dari substansi berbahaya, seperti bakteri, virus, racun (toksin), sel kanker, serta darah dan jaringan dari luar tubuh. Substansi ini mengandung antigen. Sistem imun tubuh memproduksi antibodi untuk melawan dan menghancurkan antigen ini.

Pada mereka yang menderita gangguan autoimun, sistem imun tubuh tidak bisa membedakan jaringan yang sehat dan antigen. Sebagai akibatnya, tubuh melakukan reaksi yang menghancurkan jaringan normal tubuh sendiri. Dalam dunia medis, sudah ditemukan lebih dari 80 jenis gangguan autoimun.

Penyebab pasti dari gangguan ini tidak diketahui dengan jelas. Suatu teori menyatakan bahwa kondisi ini diakibatkan oleh mikroorganisme (seperti bakteri dan virus) atau obat-obatan  yang mungkin memicu timbulnya perubahan yang membingungkan sistem imun tubuh. Gangguan autoimun mungkin akan terjadi lebih sering pada mereka dengan kondisi gen tertentu yang membuat tubuhnya lebih rentan terkena gangguan autoimun.

Gangguan autoimun bisa mengakibatkan hancurnya jaringan normal tubuh, pertumbuhan abnormal pada organ yang terkena, dan perubahan fungsi organ.  Selain itu, gangguan ini bisa menyerang satu atau lebih organ atau jenis jaringan. Area tubuh yang sering mengalami gangguan autoimun meliputi pembuluh darah, jaringan ikat, kelenjar endoktrin (seperti tiroid dan pankreas), sendi, otot, sel darah merah, dan kulit.

Seseorang bisa saja memiliki lebih dari satu gangguan autoimun. Gangguan autoimun yang paling umum antara lain; penyakit Addison, penyakit Celiac, dermatomiositis, penyakit Graves, tiroiditis Hashimoto, multiple sclerosis, myasthenia gravis, pernicious anemia, arthritis reaktif, rheumatoid arthritis, sindrom Sjogren, diabetes tipe I, dan systemic lupus erythematosus.

Ketika gangguan autoimun terjadi, penderitanya akan mengalami gejala berupa kelelahan, demam, nyeri sendi, ruam, malaise, dan lain-lain. Gejala yang dialami bisa bervariasi tergantung pada jenis dan area tubuh yang terpengaruh.

Bagaimana cara menanganinya?

Pengobatan untuk gangguan autoimun tergantung pada gejala dan gangguan spesifik yang dimiliki pasien. Pengobatan ditujukan untuk mengurangi gejala, mengontrol proses autoimun, dan mempertahankan kemampuan tubuh untuk melawan penyakit. Sebagian orang mungkin akan membutuhkan suplemen tertentu untuk menggantikan hormon atau vitamin tubuh yang kurang, misalnya seperti suplemen tiroid, vitamin B12, atau suntikan insulin. Jika, gangguan autoimun menyerang darah, pasien mungkin memerlukan transfusi darah. Sedangkan bagi mereka yang menderita gangguan autoimun yang memengaruhi fungsi tulang, sendi, atau otot akan membutuhkan bantuan medis agar bisa lebih mudah bergerak dan beraktivitas.

Efektivitas pengobatan ini nantinya akan tergantung pada jenis penyakit autoimun yang diderita. Kebanyakan jenis gangguan autoimun bersifat kronis, namun umumnya bisa dikontrol dengan pengobatan. Tapi, pengobatan tidak bisa menjamin pasien akan bebas dari gejala karena, pada dasarnya, gejala autoimun bisa datang dan pergi, bahkan bisa bertambah parah. Jika gejala Anda bertambah parah, kondisi ini disebut dengan “flare up”. 

Jadi, jika Anda memiliki gejala gangguan autoimun, segera hubungi dokter. Dokter selanjutnya akan melakukan pemeriksaan fisik dan sejumlah tes. Tes yang mungkin diperlukan meliputi tes antibodi anti-nuklear, tes autoantibodi, CBC, C-reactive protein, dan Erythrocyte sedimentation rate (ESR)

Artikel Terkait

Previous
Next Post »